SH itu Satu, Satu itu Tunggal, Tunggal itu Esa ..Diri saya adalah diri kamu,cahayamu adalah cahayaku,..kamu adalah saudaraku ,kamu adalah aku,Satu ..Siji

jika SETIA HATI_nya masih di pertanyakan

Setia hati mengajak warga_nya untuk tdk menyangkali hati. ojo selak karo batin'e.

banyak orang menjadi warga dr organisasi sh

tp belum tentu mereka bisa ber_sh.
banyak pula orang yg belajar ilmu sh tp banyak dr mereka yg tdk bisa / blm bisa ber_sh


banyak pula orang yg bangga akan sh tp malah lupa apa sebenarnya hakikat sh itu.

jika msh ada benci dengan saudara_nya

jika msh keluar kata2 kotor dr mulutnya
jika msh melempari tugu organisasi sh laen
jika msh menyangkal sejarah yg tdk menyenangkan hati_nya

MAKA SH_NYA PATUT DI PERTANYAKAN ???

MORI

Kata ini biasanya banyak yg slh arti & penafsiran,banyak warga /KADHANG SETIA HATI(khususnya yg baru di kecer)yg menganggap bahwa MORI adl semacam benda pusaka yg di kultuskan/di keramatkan,kadang ada yg menganggap bahwa MORI mempunyai yoni/ada penunggunya,saya tersenyum melihat & mendengar pernyataan ini,,,
mari kita bahas bersama !!!

sebenarnya untuk apa kita di beri MORI saat kita di sahkan?
Jwbannya singkat saja,untuk mengingatkan kita pada kematian,MORI bkan benda pusaka yg kita agungkan,mori pd intinya adl sebagai sarana untuk sll mengingat pda kematian.

Ada yg blg seperti ini,” MORI JGN SAMPAI KENA SINAR MATAHARI NANTI PENUNGGUNYA PERGI,MORI JGN DI CUCI PAKAI SABUN NANTI PENUNGGU MORI BS NGAMUK,MORI JGN DI PERAS WAKTU NYUCI NANTI BADAN KITA BS SKIT SEMUA KARENA KWALAT “
Pernyataan seperti itu srg sekali kita dgr,& jika kita memegang teguh pda pernyataan di atas,maka kita akan mencetak generasi pendekar SETIA HATI yg fanatik knp saya blg seperti itu,krna kita terlalu fanatik pada suatu crt yg belum tentu kebenarannya.skrg kita bahas satu persatu...

Kenapa mori tdk boleh di jemur di terik matahari?
Sbnrnya bkan krn takut penunggunya kabur,tp ditakutkan kain mori menjadi tipis & kaku,siapa blg mori tdk boleh kena sinar matahari?sbgai bkti adalah saat setelah keceran biasanya mereka melakukan konvoi dan terbukti mori terkena sinar matahari dan mereka juga tidak apa apa.

Kenapa MORI tdk boleh di cuci memakai diterjen?
Itu krna bs membuat Mori menjadi kusam warnanya(bludak),mori akan pudar menjadi agak kecoklatan,yg lbh parah lg mori akan rusak.

Kenapa mencuci Mori tdk boleh di peres/diuntir?
Sama jwbannya,klo kita memeras kain trll keras maka kain itu akan sobek & terkoyak,di perbolehkan saja kita seenaknya mencuci mori(disamakan dgn mencuci baju),tp alangkah lebih baiknya kita gunakan cara yg baik & tdk merusak mori kita.

Apakah mencuci mori harus setahun sekali?& dilaksanakan pada bulan Muharam(suro) saja?
Ini yg kadang membuat org seakan-akan harus mencuci mori pada bln muharam,sbnrnya ini salah kaprah,knp saya blg salah,krn jika Mori trll srg dicuci sbnrnya akan smkin kotor dikarenakan getah dr bunga(kembang setaman),mori juga rapuh,tipis,& cepat sobek.maka sebaiknya mencuci mori klo sedang kotor saja,saya sdri mencuci mori 3thun sekali,& prlu diingat MENCUCI MORI BOLEH DI LAKSANAKAN PD BULAN APA SAJA,BKAN HANYA BULAN SURO.

SALAM PERSAUDARAAN

Setia Hati pecah karena PILIHAN


Pada dasarnya SH memang hanya satu. Tapi, dalam kondisi kekinian, ada empat SH yang eksis, yaitu SH Panti, SH Terate, SH Organisasi, dan SH Tunas Muda. SH Panti, Terate, dan Tunas Muda terpusat di Madiun, sementara SH Organisasi lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah. Mereka pecah karena pilihan sikap masing-masing. Dan hanya SH Panti yang  masih menjalankan pakem ajaran asli Ki Ngabehi Surodiwiryo.

Menurut catatan sejarah Setia Hati, SH Terate didirikan oleh Hardjo Oetomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun pada tahun 1922. Sampai sekarang, pusat kegiatan SH Terate ada di Jl Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Lalu, pada tahun 1932, Munandar Hadiwijoto memilih mendeklarasikan SH Organisasi di Semarang. Selang tiga dikade setelah SH Organisasi lahir, tepatnya tahun 1966, R Djimat Soewarno juga memisahkan diri dari SH Panti, untuk kemudian mendirikan SH Tunas Muda Winongo yang berpusat di Jl Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

“Yang asli berdiri dari tahun 1903 sampai sekarang adalah SH Panti,” Tentang latar belakang kenapa ada perpecahan. ”Itu pilihan kepentingan masing-masing pendiri yang tak ada hubungannya dengan SH Panti.”

SH Terate, Organisasi, dan Tunas Muda memisahkan diri dari SH Panti. Tak ada hubungan organisasi atau keilmuan, kendati pada dasarnya berasal dari fondasi yang sama. “Secara prinsip hubungan kami dengan semua SH baik-baik saja,”

Tanpa Seragam Hitam, Tak Punya Ambisi Politis


KOTA MADIUN – Setia Hati (SH) yang asli tidak berseragam hitam-hitam layaknya SH-SH lain yang dikenal khalayak luas. SH juga tidak pernah menggelar kekuatan massa tiap Bulan Suro. Karena itulah, SH yang sekarang dikenal sebagai SH Panti ini terkesan lebih ramah.

”SH sejati tidak pernah punya seragam. Kalau mau ada pertemuan atau acara apapun, pakaian orang SH ya bebas rapi, misalnya mengenakan setelan kemeja batik dan celana kain,”.

Karena kesan ramah itu pula, setiap kali SH Panti menggelar acara untuk memperingati bulan Suro –yang biasa disebut Suran—di panti, Jl Gajah Mada 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, malah banyak warga di luar SH yang ingin datang. Sementara ketika SH yang lain menggelar acara Suran, yang identik dengan konvoi seragam hitam-hitam, masyarakat malah menghindari.

”Kalau SH Panti yang mengadakan acara Suran, polisi malah senang. Karena acara di panti selalu berjalan aman dan tidak melibatkan konvoi massa.

SH tidak pernah berambisi untuk merekrut massa dalam jumlah yang banyak. Dan memang, warga SH Panti itu tidak banyak. Pasalnya, sekali rekrut, SH punya kebijakan maksimal hanya menerima dua orang. Perekrutan pun hanya dilakukan maksimal dua kali setahun.

Dibandingkan jumlah massa SH Terate atau SH Tunas Muda, massa SH Panti jelas tak ada apa-apanya. Karena dua SH itu merekrut massa dalam jumlah besar sewaktu-waktu. “Tujuan SH memang bukan untuk menggalang massa,”.

SH juga tidak pernah punya ambisi untuk mendongkrak simpatisan atau berekspansi merekrut warga sebanyak-banyaknya. SH tidak punya kepentingan politik praksis. SH akan tetap menjadi SH, yang menghantarkan warganya menuju keselamatan. ”SH hanya ingin selamat dan terhindar dari perbuatan tercela,”.

Setia Hati Menghantarkan Selamat Lahir-Batin







SETIA HATI. Sudah, itu saja nama asli perguruan asli Madiun ini. Tanpa embel-embel nama lain di belakangnya. Hanya SH.

Setia Hati bisa disebut sebagai organisasi yang lengkap. Mengajarkan bagaimana cara keluar dari permasalahan hidup, dengan menggabungkan kebutuhan jasmani dan rohani. Dua kebutuhan itu lalu dilebur dalam gerak indah untuk pertahanan diri, yang akhirnya diberi nama pencak silat. Pencak silat dalam arti untuk pertahanan lahir batin, bukan untuk gubrak-gabruk adu fisik.

Adalah Ki Ngabehi Surodiwiryo yang punya inisiatif untuk melahirkan ajaran Setia Hati. Di Jl Gajah Mada No 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, ajaran ini mulai diperkenalkan oleh pria flamboyan yang akrab disapa Eyang Suro itu pada khalayak pada tahun 1903.

Filosofi dasar ajaran Setia Hati sebenarnya sangat luhur dan manusiawi. ”Setia Hati memiliki makna setia menuruti kehendak hati yang luhur untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa,”

SH, memberikan suatu pelajaran untuk mendapatkan keselamatan. Secara teknis, memberikan pelajaran lahiriah berupa pencak silat dan pelajaran batiniah berupa upaya sungguh-sungguh untuk mendalami ajaran ke-Tuhan-an.

Lalu dua hal tersebut dipadukan sehingga melahirkan satu gerak, baik refleks fisik maupun rasa, sehingga bisa memecahkan permasalahan yang dihadapi, menghindarkan diri dari marabahaya, dan dengan begitu seorang warga SH bisa selamat. Dan perpaduan itulah yang disebut sebagai pencak silat, buah dari kolaborasi jasmani dan rohani yang luhur.

Pencak silat SH itu untuk melindungi diri. Untuk mengeluarkan seorang SH dari permasalahan hidupnya. Bukannya untuk mencari masalah dengan main hajar orang lain. ”Kalau saja semua SH berpedoman pada pakem yang diajarkan Ki Ngabehi Surodiwiryo, tidak akan pernah ada insiden. Karena seorang SH sejati pasti akan menghindari perbuatan yang tidak pantas, seperti mencelakai orang lain,” .

SH asli, yang saat ini lebih dikenal dengan nama SH Panti, tidak pernah merekrut anggota. Tapi, para pengurus memilih istilah “menghantar” siapa yang berminat untuk masuk ke dalam SH. Mereka pun cukup selektif untuk memilih calon warga.

”Calon warga SH harus memenuhi dua syarat. Pertama, benar-benar punya niat kuat untuk mempelajari SH yang murni. Yang kedua dewasa, dalam artian sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk atau benar dan salah,”.

Beda dengan SH lainnya, seperti SH Terate dan Tunas Muda --keduanya turunan dari SH Panti—yang umumnya merekrut calon warga dalam skala massif, di SH Panti sekali masuk maksimal hanya dua orang. ”Menurut perhitungan ajaran SH tidak boleh lebih dari dua orang. Ajaran itu murni dari Ki Ngabehi Surodiwiryo,”

Inilah yang membuat SH Panti terkesan adem ayem. Pemilihan anggotanya cukup selektif, sehingga pengajaran benar-benar fokus dan mengena. seorang SH Panti dijamin tidak akan melenceng dari ajaran dan tujuh sumpah yang diucapkan ketika ditahbiskan sebagai seorang SH. ”Kalau melanggar sumpah tidak akan selamat.”

Juga karena alasan itulah SH Panti bukan tipikal SH yang suka menggelar unjuk kekuatan massa. Karena memang bukan itu tujuan SH. Tapi lebih pada pengajaran pada masing-masing individu SH menjadi pribadi yang matang lahir-batin dan selamat dunia-akhirat. Ajaran SH untuk individu, bukan untuk kelompok. Dan ajaran SH hanya diberikan pada warga yang sudah memenuhi syarat dan dikecer, tidak disebarluaskan secara umum.

Sampai sekarang, SH masih eksis dengan nama SH Panti. Pusat kegiatannya di rumah yang pernah ditempati Eyang Suro bersama istrinya, Ny Sariati. Suasana rumah yang kemudian disebut panti itu memang adem ayem, jauh dari kesan ingar-bingar.

Suasana itu seperti pencerminan dari kehidupan Ki Ngabehi Surodiwiryo, seorang pekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) Madiun pada zaman kolonial Belanda, yang menjalani hidup bersahaja dan tenang. Tidak mengangkat dagu kendati dia adalah keturunan darah biru bila ditarik dari garis darah Betoro Katong penguasa Ponorogo zaman dulu.

Dijalankan Tiga Badan

Secara organisasi, SH Panti dijalankan oleh tiga unsur, yaitu Badan Pengesuh atau Pengikat, Badan Pengasuh, dan Badan Pertimbangan.

Disebut Pengesuh, berasal dari kata dasar esuh, dalam bahasa Jawa berarti pengikat lidi. Pengesuh bisa diartikan sebagai pemersatu yang bertanggung jawab terhadap SH. Yang bisa menjadi seorang pengesuh harus warga tingkat tiga, seperti Koes Soebakir. Dari Badan Pengesuh inilah akan diangkat juru kecer, yang akan mengesahkan seseorang sebagai warga SH.

Sedangkan Badan Pengasuh bertanggung jawab atas rumah tangga SH. Yang mengemban peran ini tidak harus tingkat tiga layaknya Pengesuh. Tugasnya sebagai pelaksana upacara kecer, Suran, atau silaturahim.

Badan Pertimbangan bertugas memberikan pertimbangan, referensi, dan bagaimana keputusan yang akan diambil oleh organisasi. ”Tapi bukan berarti mendominasi badan pengesuh maupun pengasuh,” Koes menjelaskan.

Pecah karena Pilihan

Pada dasarnya SH memang hanya satu. Tapi, dalam kondisi kekinian, ada empat SH yang eksis, yaitu SH Panti, SH Terate, SH Organisasi, dan SH Tunas Muda. SH Panti, Terate, dan Tunas Muda terpusat di Madiun, sementara SH Organisasi lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah. Mereka pecah karena pilihan sikap masing-masing. Dan hanya SH Panti yang mengaku masih menjalankan pakem ajaran asli Ki Ngabehi Surodiwiryo.

Menurut catatan sejarah Setia Hati, SH Terate didirikan oleh Hardjo Oetomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun pada tahun 1922. Sampai sekarang, pusat kegiatan SH Terate ada di Jl Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Lalu, pada tahun 1932, Munandar Hadiwijoto memilih mendeklarasikan SH Organisasi di Semarang. Selang tiga dikade setelah SH Organisasi lahir, tepatnya tahun 1966, R Djimat Soewarno juga memisahkan diri dari SH Panti, untuk kemudian mendirikan SH Tunas Muda Winongo yang berpusat di Jl Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

“Yang asli berdiri dari tahun 1903 sampai sekarang adalah SH Panti,” kata Koes Soebakir. Tentang latar belakang kenapa ada perpecahan, kata Koes, ”Itu pilihan kepentingan masing-masing pendiri yang tak ada hubungannya dengan SH Panti.”

SH Terate, Organisasi, dan Tunas Muda memisahkan diri dari SH Panti. Tak ada hubungan organisasi atau keilmuan, kendati pada dasarnya berasal dari fondasi yang sama. “Secara prinsip hubungan kami dengan semua SH baik-baik saja,” Koes memastikan.(tofikpram)

Tujuh Pengesuh atau Pengecer Setia Hati
Ki Ngabehi Surodiwiryo (1903-1944)
Koesnandar (1944-1947/Bupati Madin kala itu)
Kolonel Singgih Gubernur Akademi Militer Nasional Magelang (1947-1957)
Hadi Subroto (1957-1977)
Karyadi (1957-1977)
Soemakto (1978-1998)
Koes Soebakir (1998-Sekarang)

SH Asli Tak Pernah Mengajarkan Permusuhan


KOTA MADIUN – Ketika mendengar istilah Setia Hati (SH), ingatan kolektif masyarakat awam di wilayah Madiun, lebih-lebih dari luar Madiun, langsung tertuju pada dua kubu yang selama ini terkesan bermusuhan, yaitu SH Terate dan SH Tunas Muda.

SH pun diidentikkan dengan kelompok massa yang menjadi sumber kekacauan di Madiun dengan kebiasaan tawuran. Penilaian ini membuat SH “asli” yang masih memegang teguh ajaran pendiri SH Ki Ngabehi Surodiwiryo, prihatin.

”SH tidak pernah mengajarkan permusuhan. SH justru mengajarkan bagaimana cara untuk keluar dari permasalahan hidup,” ujar pengasuh Persaudaraan Setia Hati Winongo, Kota Madiun, Koes Soebakir, Selasa (3/1).

Menurut Koes Soebakir, semua SH yang ada di Madiun itu sumbernya satu, ya SH di Jl Gajah Mada No 41 Kota Madiun, yang kemudian dikenal sebagai SH Panti itu. Panti itu merujuk pada rumah di yang dulunya adalah kediaman Ki Ngabehi Surodiwiryo atau Eyang Suro, pendiri ajaran SH. Jadi, bisa dikatakan SH yang asli itu ya SH Panti. Dan warga SH asli digembleng di tempat itu.

Sedangkan SH lainnya, seperti SH Terate, SH Tunas Muda, dan SH Organisasi, itu didirikan oleh mereka-mereka yang awalnya juga mengenyam ilmu SH di panti. Bisa juga disebut sebagai SH turunan. Tapi mereka para pendiri sama-sama berasal dari satu guru yang sama.

”Mereka (pendiri SH Terate, Tunas Muda, dan SH Organisasi, red) memilih memisahkan diri dan mendirikan SH sendiri. Mereka punya kepentingan apa, saya juga tidak tahu. Tapi, tetap saja semuanya bersumber dari satu guru,” tambah Koes Soebakir.

Soal beberapa kerusuhan yang melibatkan beberapa aliran SH pecahan dari panti itu, Koes menegaskan, itu sudah di luar tanggung jawab SH Panti. “Secara organisatoris SH Panti sudah sama sekali terpisah dari SH yang lain. Tapi, pada dasarnya, kami semua punya hubungan baik. Kami tidak pernah bermusuhan. SH memang tidak pernah mengajarkan bermusuhan,” tegas Koes Soebakir

SH itu SATU


SH itu Satu .., Satu itu Tunggal.. , Tunggal itu Esa ..Diri saya adalah diri kamu,cahayamu adalah cahayaku,..kamu adalah saudaraku ,kamu adalah aku,Satu ..Siji ..Tunggal nggak ada pemisahnya.Apa yang ingin kamu ketahui tentang SH Jika kamu niat dari hati yang paling dalam ..maka aku sudah berkewajiban untuk menyampaikannya kepadamu.. hingga kamu faham dan mengerti ,lalu memperbaiki prilakumu ,hingga kamu bergerak seperti "JURUS" : JUJUR dan LURUS ..

Manusia ketika baru dilahirkan ,keluar dari rahim ibu adalah sudah SH,manusia yang baru dilahirkan itu suci,menjadi orang SH itu suci lahir tumusing bathin.
Orang SH yang ber-SH akan mengerti bahwa manusia ada dimana mana dan takkan kemana mana.Orang SH tidak perlu polah atau bertingkah untuk menunjukkan SH nya ,SH itu tidak kelihatan tapi ada,SH itu ada tapi tidak kelihatan.SH bukan gambaran ,tapi SH adalah Perjalanan..
orang SH itu mengerti Jurus:jujur dan Lurus,tidak "ngawur".orang SH itu tidak bisa apa apa,tapi jika ALloh menghendaki jangankan sesama manusia,Gunung pun jika ALloh menghendaki maka akan runtuh.Karena berdirinya orang SH juga berdirinya Alloh,segala perbuatan kita adalah untuk Alloh "sholatku,ibadahku,hidup dan matiku adalah karena dan untuk Alloh"..karena orang SH ,selalu "ngiket rosoning bathin sak durunge di ucapno "mengikat rasa bathin sebelum di ucapkan,artinya segala perbuatan buruk atau baik,ketika itu masih dalam bathin pun ,Alloh telah tahu,hati hatilah dengan bathinmu...,kita bisa saja membohongi orang lain,tapi tidak dengan Alloh,karena suatu saat kebohongan itu pasti akan di buka oleh Alloh.
Marilah saudaraku; kita pegang apa yang telah di wasiatkan Eyang Soero "saat aku telah tiada nanti,semua orang SH adalah satu ,saudara,tidak ada perbedaan."
kadhang pendekar SH, saya adalah anda..anda adalah saya ,saya dan anda adalah tunggal ,satu ,Esa,dalam SH.mari kita saling mengingatkan..dengan prinsip :tidak ada yang harus diperdebatkan untuk mencari Ke AKUAN..,si hebat ..yang murni ada dalam keyakinan bersih Hati orang SH yang ber SH.insyaalloh tulisan ini membantu mewujudkan Persaudaraan .amiien